www.mediasurabayanews.com, PAPUA – Sejumlah bandara di Wilayah Papua yang sebelumnya dihentikan sementara operasionalnya kini mulai kembali melayani penerbangan secara bertahap. Kebijakan ini diambil setelah situasi keamanan dinilai lebih kondusif pasca insiden penembakan pilot pesawat Smart Air di Koroway Batu pada 11 Februari 2026.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa hingga Minggu (22/02/2026), dua dari total 11 lokasi yang sempat ditutup sudah mulai dibuka kembali secara bertahap. Salah satunya adalah rute Nabire–Beoga yang kini kembali dilayani oleh Smart Air.
Penerbangan tersebut dapat beroperasi kembali setelah adanya satuan tugas pengamanan di Beoga dan kondisi wilayah dinilai aman untuk aktivitas penerbangan.
Selain dari Nabire, rute Timika menuju Beoga juga telah kembali dilayani oleh Asian One Air. Sebagai langkah awal, dilakukan uji coba penerbangan kargo di Lapangan Terbang Beoga.
Jika hasil evaluasi menunjukkan kondisi tetap stabil dan aman, maka layanan penerbangan penumpang akan kembali dibuka untuk masyarakat.
Sementara itu, Lapangan Terbang Iwur sudah mulai melayani penerbangan charter yang dioperasikan oleh Associated Mission Aviation (AMA). Namun, untuk saat ini belum tersedia rute penerbangan perintis reguler di wilayah tersebut.
Pengamanan Diperketat di Koroway Batu
Untuk wilayah Koroway Batu, lokasi terjadinya insiden penembakan terhadap pilot dan co-pilot Smart Air, pemerintah mengambil langkah pengamanan ekstra. Sebanyak 100 personel TNI/Polri telah dikerahkan guna memastikan stabilitas keamanan di area tersebut.
Meski pengamanan telah diperkuat, operasional penerbangan ke Koroway Batu belum langsung dibuka. Pemerintah masih melakukan koordinasi intensif dengan operator penerbangan serta aparat keamanan sebelum memutuskan kelanjutan layanan. Langkah ini dinilai penting agar keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama.
Dukungan untuk Penerbangan di Wilayah 3TP
Wilayah Papua termasuk dalam kategori 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan), sehingga konektivitas udara memegang peran vital bagi mobilitas masyarakat serta distribusi logistik. Gangguan operasional tidak hanya berdampak pada transportasi, tetapi juga pada aktivitas ekonomi dan pelayanan dasar masyarakat.
Tokoh aviasi nasional, Susi Pudjiastuti, turut menyoroti insiden tersebut. Ia menyayangkan kejadian yang menimpa kru Smart Air karena selain berdampak pada sumber daya manusia yang berperan menjaga konektivitas di Indonesia Timur, kerusakan pesawat juga menimbulkan kerugian besar bagi operator.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan maksimal dalam hal pengamanan dan kemudahan operasional agar maskapai tetap dapat melayani wilayah terpencil dengan aman dan nyaman.
Penutupan 11 Lokasi Penerbangan
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menghentikan sementara operasional di 11 bandara, satuan pelaksana, dan lapangan terbang di Papua yang dinilai rawan keamanan sejak 16 Februari 2026. Pembukaan kembali dilakukan secara bertahap setelah mendapatkan jaminan pengamanan dari aparat TNI/Polri dan dinyatakan memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Adapun 11 lokasi tersebut meliputi:
Satpel Koroway Batu
Bandara Bomakia
Satpel Yaniruma
Satpel Manggelum
Lapter Kapiraya
Lapter Iwur
Lapter Faowi
Lapter Dagai
Lapter Aboy
Lapter Teraplu
Lapter Beoga
Pemerintah menegaskan bahwa aspek keamanan dan keselamatan akan tetap menjadi pertimbangan utama sebelum seluruh layanan penerbangan kembali normal sepenuhnya.
Dengan pembukaan bertahap ini, diharapkan konektivitas udara di Papua dapat segera pulih dan kembali mendukung aktivitas masyarakat secara optimal.(Satriya/Info Penerbangan)

















