DAMPAK KONFLIK TIMUR TENGAH, HARGA AVTUR MELONJAK DAN TEKAN INDUSTRI PENERBANGAN
www.mediasurabayanews.com, JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada industri penerbangan. Per 1 April 2026, harga avtur mengalami kenaikan signifikan, baik untuk rute domestik maupun internasional. Lonjakan ini mendorong maskapai untuk mempertimbangkan penyesuaian tarif tiket.
Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyampaikan bahwa kenaikan harga avtur merupakan imbas dari tren global yang dipengaruhi situasi geopolitik. Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, menjelaskan bahwa kenaikan ini sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya.
Di salah satu bandara tersibuk di Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur domestik melonjak drastis. Dari yang sebelumnya sekitar Rp13.600 per liter pada Maret 2026, kini naik menjadi lebih dari Rp23.500 per liter pada April 2026. Artinya, terjadi kenaikan lebih dari 70 persen hanya dalam waktu satu bulan.
Kenaikan serupa juga terjadi pada harga avtur internasional. Nilainya meningkat lebih dari 80 persen, mengikuti pergerakan harga global. Jika dibandingkan dengan tahun 2019, kenaikan harga avtur saat ini bahkan jauh lebih tajam, mencapai hampir tiga kali lipat.
Melihat kondisi tersebut, INACA mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian terhadap tarif batas atas tiket penerbangan domestik. Selain itu, asosiasi juga mendorong adanya penyesuaian biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge agar maskapai tetap mampu bertahan di tengah tekanan biaya operasional.
Menurut Denon, biaya bahan bakar saat ini menyumbang sekitar 40 persen dari total pengeluaran operasional maskapai. Tanpa penyesuaian tarif, kondisi ini berpotensi mengganggu keberlanjutan bisnis serta operasional penerbangan, termasuk aspek keselamatan dan layanan.
Strategi Efisiensi Maskapai Hadapi Lonjakan Biaya
Di sisi lain, maskapai mulai mengambil langkah strategis untuk merespons kenaikan harga avtur. Salah satunya dilakukan oleh Garuda Indonesia.
Melalui pernyataan Wakil Direktur Utamanya, Thomas Oentoro, perusahaan menegaskan fokus pada efisiensi operasional dan pengelolaan bahan bakar sebagai langkah utama menjaga kinerja perusahaan.
Berbagai upaya dilakukan, mulai dari optimalisasi penggunaan bahan bakar hingga pengendalian biaya operasional secara menyeluruh. Selain itu, perusahaan juga terus menjaga stabilitas arus kas dan likuiditas agar tetap mampu beroperasi di tengah tekanan biaya yang meningkat.
Garuda memastikan bahwa seluruh langkah tersebut dilakukan tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kualitas layanan. Evaluasi terhadap berbagai strategi mitigasi juga terus dilakukan secara berkelanjutan.
Lebih jauh, perusahaan menilai bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan di sektor penerbangan menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan industri. Sinergi yang kuat diharapkan mampu membantu industri aviasi nasional bertahan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.(SATRIYA/INFO PENERBANGAN)





