www.mediasurabayanews.com, Jakarta – Perusahaan dirgantara asal Eropa, Airbus, mengumumkan penarikan sekitar 6.000 unit pesawat A320 setelah ditemukan masalah pada perangkat lunak (software) sistem kendali penerbangan.
Dalam buletin resmi yang dirilis pada Jumat (28/11), Airbus menjelaskan bahwa seluruh armada yang terdampak akan dikembalikan ke versi software sebelumnya. Proses pembaruan ini disebut relatif sederhana, namun wajib dilakukan sebelum setiap pesawat kembali beroperasi.
Langkah tersebut diumumkan di saat sekitar 3.000 pesawat A320 tengah mengudara di berbagai penjuru dunia. Pemberitahuan resmi dikirim ke lebih dari 350 operator, termasuk sejumlah maskapai di Indonesia.
Beberapa maskapai besar dunia sudah mengumumkan potensi penundaan (delay) dan pembatalan penerbangan sebagai dampak dari kebijakan ini.
American Airlines, operator A320 terbesar di dunia, menyebut sekitar 340 dari 480 pesawatnya harus menjalani pembaruan software. Pihak maskapai memperkirakan proses tersebut rampung dalam dua jam untuk setiap unit, dan seluruhnya selesai pada Sabtu (29/11).
Maskapai lain seperti Lufthansa (Jerman), Indigo (India), dan easyJet (Inggris) juga mengambil langkah serupa dengan menghentikan sementara pengoperasian armada A320 mereka untuk perbaikan.
Sementara itu, Avianca dari Kolombia melaporkan bahwa lebih dari 70% armadanya terdampak, sehingga pihaknya memutuskan menghentikan penjualan tiket hingga 8 Desember mendatang.
Dampak ke Indonesia
Indonesia pun tak luput dari imbas penarikan ini. Beberapa maskapai nasional yang mengoperasikan A320 antara lain Batik Air, Super Air Jet, Citilink Indonesia, Indonesia AirAsia, Pelita Air, dan TransNusa.
Menanggapi hal tersebut, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) telah menginstruksikan seluruh operator untuk memastikan sistem Aileron Elevator Computer (ELAC) pada pesawat A320 dalam kondisi layak pakai sebelum kembali terbang.
“Situasi ini berpotensi menimbulkan gangguan penerbangan, mengingat banyaknya armada A320 yang beroperasi di Indonesia maupun di seluruh dunia,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, Sabtu (29/11).
Masalah Teknis dan Dugaan Penyebab
Menurut keterangan Airbus, masalah software tersebut terjadi akibat radiasi matahari yang merusak data penting pada sistem kendali penerbangan (flight control). Kondisi ini dinilai serius karena berisiko mengganggu kestabilan pesawat di udara.
Beberapa sumber industri juga menduga bahwa masalah ini terkait dengan insiden JetBlue pada 30 Oktober lalu, ketika pesawat A320 rute Cancun–Newark mengalami penurunan ketinggian mendadak hingga menyebabkan beberapa penumpang luka-luka. Pesawat tersebut akhirnya mendarat darurat di Tampa, Florida, dan sedang dalam penyelidikan FAA (Badan Penerbangan Federal AS).
Salah Satu Penarikan Terbesar Airbus
Analis penerbangan Mike Stengel dari AeroDynamic Advisory menilai waktu penarikan ini kurang ideal, mengingat pesawat A320 merupakan tipe yang paling banyak digunakan selama periode liburan di AS.
Meski begitu, Stengel menambahkan bahwa proses perbaikannya relatif cepat, karena dapat dilakukan saat pesawat sedang parkir atau menjalani inspeksi rutin.
Langkah besar ini menjadi salah satu penarikan (recall) terbesar dalam sejarah Airbus, yang hingga kini telah mengoperasikan lebih dari 11.300 unit jet keluarga A320 di seluruh dunia.(Satriya/Info Penerbangan)















