*Daerah
343
×

Sebarkan artikel ini
Pelukan Kemanusiaan di Tanah Pascabencana: PMI Bireuen Bangkitkan Harapan dan Masa Depan Anak-Anak Peusangan Selatan

www.mediasurabayanews.com, BIREUEN – Ada luka yang tak selalu mampu diucapkan oleh kata-kata. Ia bersemayam di balik senyum polos anak-anak SDN 7 Peusangan Selatan—pada mata yang tampak bening, namun menyimpan bayangan air bah yang pernah merenggut buku, tas, dan rasa aman mereka.

Lumpur mungkin telah mengering, tetapi jejak trauma masih tinggal diam-diam di sudut ruang kelas dan ingatan masa kanak-kanak.

Namun, Senin siang (26/01/2026), sebuah ketukan pintu mengubah suasana. Itu bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan kehadiran yang menyalakan kembali harapan.

Langkah Ketua PMI Kabupaten Bireuen, Edi Saputra, yang akrab disapa Edi Obama, bersama tim relawan, datang membawa lebih dari bantuan fisik. Mereka membawa kepastian bahwa anak-anak di pelosok ini tidak dilupakan. Sebab dalam setiap bencana, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan harta, melainkan hilangnya rasa diperhatikan.

“Dalam luka terdalam, yang paling dibutuhkan bukanlah banyaknya bantuan, tetapi hadirnya kepedulian.”

“Terima Kasih Telah Mengingat Kami…”

Saat rombongan PMI tiba di Desa Darul Aman, suasana berubah seketika. Seorang siswi kecil memeluk tas sekolah barunya dengan jemari gemetar, seolah menggenggam kembali harapan yang hampir pudar. Dengan suara lirih yang penuh haru, ia berbisik, “Alhamdulillah, bapak-bapak PMI sampai ke sini… kami pikir kami sudah dilupakan.”

Kalimat sederhana itu menghujam lebih dalam daripada pidato panjang mana pun. Sekat antara pemimpin dan rakyat runtuh seketika. Yang tersisa hanyalah seorang dewasa yang sedang memeluk duka seorang anak. Edi Obama beberapa kali tampak mengusap wajah, berusaha menahan emosi saat menyaksikan mata-mata kecil itu kembali menyala.

“Anak-anak tidak meminta dunia yang sempurna, mereka hanya berharap dunia yang peduli.”

Uang Jajan, Nyanyian, dan Keberanian Menata Masa Depan

Tak hanya menyerahkan perlengkapan sekolah, Edi Obama menyelipkan kasih sayang nyata melalui uang jajan bagi 158 siswa. Bagi PMI, ini bukan soal nominal, melainkan simbol perhatian—sebuah pesan bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.

“Ini untuk kalian ya, Nak. Makan yang banyak, biar kuat belajarnya,” ucapnya lembut, sambil mengelus kepala seorang siswa yang tertunduk malu.

Keharuan mencapai puncaknya ketika Sri Selisna Devi dari PMI Aceh mengajak anak-anak bernyanyi bersama. Di tengah bangunan sekolah yang masih menyimpan aroma tanah sisa banjir, suara mungil mereka pecah dalam lagu-lagu keceriaan. Trauma akan gemuruh air perlahan berganti dengan tawa dan keberanian untuk bermimpi kembali.

Para guru hanya mampu menyeka air mata. Mereka menyaksikan bagaimana trauma perlahan luluh, digantikan semangat baru untuk belajar dan menatap hari esok.

“Harapan adalah cahaya kecil yang mampu menuntun langkah, bahkan di jalan paling gelap.”

Lambaian Tangan yang Menjadi Doa.

Momen paling menggetarkan terjadi saat mobil PMI perlahan meninggalkan lokasi. Anak-anak itu tak segera kembali ke kelas. Mereka berdiri berjejer di pinggir jalan, melambaikan tangan sekuat tenaga—seolah takut kehilangan kehangatan yang baru saja mereka rasakan.

“Pak, besok datang lagi ya! Janji ya, Pak!” teriak mereka bersahutan.

Hari itu menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang sering terburu-buru, masih ada relawan kemanusiaan yang rela menempuh jarak dan medan sulit demi memastikan tak satu pun anak tumbuh dengan perasaan sendirian dalam luka.

PMI Kabupaten Bireuen tidak sekadar memberi bantuan. Mereka telah mengembalikan sesuatu yang jauh lebih penting: rasa aman, harapan, dan keyakinan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.

“Sebab sejatinya, kemanusiaan bukan tentang seberapa banyak yang kita beri, melainkan seberapa tulus kita hadir.”

(Hendra)